Kebanyakan orang Indonesia kekurangan proteksi asuransi. Istilah pada dunia asuransi adalah underinsure.
Alias proteksi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan sebenarnya.
Ujungnya, tentu akan kesulitan. Harapan besar bahwa asuransi akan
menghapuskan kesulitan ketika kepala keluarga tidak mampu memberi
nafkah, sirna sudah.
Banyak contohnya. Evita Carolina (39) warga
Bekasi dengan tiga anak mengatakan membayar premi asuransi jiwa sebesar
Rp 2,8 juta per tahun. Uang pertanggungannya hanya sebesar Rp 50 juta.
”Memang kurang, tetapi belum ada rencana menambah lagi,” ujar ibu rumah
tangga yang baru melahirkan anak ketiganya ini. Nurul Pramudya (36)
lebih ekstrim lagi. Dia hanya memiliki asuransi pendidikan sebesar Rp 10
juta untuk kedua anaknya. Padahal, sejak suaminya meninggal 9 tahun
lalu, dia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya. Jika
terjadi risiko meninggal, kedua anaknya hanya akan menerima uang
pertanggungan sebesar Rp 10 juta saja. ”Dahulu jumlah itu sudah terlihat
besar, tetapi sekarang kecil sekali,” kata Nurul mengakui kecilnya uang
pertanggungan yang dia miliki.
Sementara itu, Fitri Dharmayanti (40) seorang wanita pengusaha di Bengkulu mengatakan dia dan suaminya memiliki asuransi jenis unit link dengan
uang pertanggungan Rp 500 juta. Tampaknya uang pertanggungan ini besar.
Dengan biaya hidup sebesar Rp 8 juta per bulan, uang pertanggungan ini
dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama lima tahun. Setelah lima
tahun uang akan habis sementara anaknya yang masih bersekolah di sekolah
dasar belum dapat memenuhi biaya hidupnya sendiri.
Mengapa
kebanyakan nasabah asuransi tidak memiliki proteksi yang mencukupi
kebutuhannya ? Hal itu terjadi karena nasabah sendiri tidak mengetahui
berapa sebenarnya proteksi yang dibutuhkan. Sebagian besar orang membeli
asuransi berdasarkan promosi dari agen asuransi, bukan kesadaran
mencukupi kebutuhan proteksi. Jadi, antara kebutuhan dan proteksi yang
ditawarkan tidak sebanding.
Selain kurang informasi dari agen
asuransi, nasabah juga tidak memiliki kemampuan untuk menghitung berapa
kebutuhan proteksinya. Padahal, caranya cukup mudah lho.
Cara menghitung
Ada beberapa metode digunakan untuk menghitung kebutuhan asuransi. Cara pertama adalah menghitung berdasarkan human live value. Metode
ini menentukan uang pertanggungan asuransi berdasarkan berapa
penghasilan dari seorang kepala keluarga yang disetahunkan. Penghasilan
ini dikalikan dengan seberapa lama kira-kira dana tersebut diperlukan
oleh ahli waris hingga ahli waris dapat mandiri. Biasanya, yang
digunakan patokan untuk waktu ahli waris dapat mandiri adalah seusai dia
selesai kuliah. Asumsinya, si anak atau ahli waris itu selesai kuliah
dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Uang pertanggungan ini
tidak memperhitungkan pertumbuhan dana jika disimpan di bank atau
instrumen investasi lainnya.
Jadi misalnya sebuah keluarga Budi
dengan ayah, Budi yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri yang
tidak bekerja dan seorang anak yang berusia lima tahun. Penghasilan si
ayah sebesar Rp 5 juta per bulan. Maka berdasarkan metode human live value, uang pertanggungan asuransi yang diperlukan adalah sebesar Rp 5 juta x 12 x 20 tahun = Rp 1,2 miliar.
Mengapa
dikalikan dengan 20 tahun? Waktu 20 tahun itulah merupakan masa yang
harus dilindungi. Mengingat si anak saat ini berusia 5 tahun, dalam
waktu 20 tahun mendatang dia akan berusia 25 tahun, diharapkan sudah
selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri sehingga tidak
tergantung lagi dari uang pertanggungan asuransi.
Sehingga
keluarga ini memerlukan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 1,2
miliar untuk memproteksi keperluan keluarga selama 20 tahun.
Semakin
tinggi uang pertanggungan, semakin tinggi pula premi yang harus
dibayarkan. Jika untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1,2
miliar premi yang harus dibayarkan terasa mahal, cara ini dapat diganti
dengan memperhitungkan pengeluaran, bukan pendapatan.
Seumpama
dari pendapatan sebesar Rp 5 juta tersebut ternyata biaya kebutuhan
keluarga sebesar Rp 4 juta, maka perhitungannya menjadi Rp 4 juta x 12 x
20 tahun = Rp 960 juta.
Masih ada cara untuk menghitung berapa besarnya uang pertanggungan asuransi, cara kedua adalah income based value (IBV).
Dengan cara ini, perlu dihitung berapa dana yang harus diinvestasikan
agar dapat menghasilkan uang sebesar Rp 4 juta sebulan seperti contoh di
atas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Dana itu harus
diinvestasikan pada instrumen investasi yang aman. Saat ini, instrumen
investasi yang dikategorikan aman dan memberikan imbal hasil di atas
bunga perbankan adalah obligasi negara Indonesia (ORI).
Saat ini,
tingkat suku bunga ORI sebesar 7,3 persen, dikurangi pajak 20 persen
sehingga didapatkan hasil netto sebesar 5,84 persen per tahun atau 0,48
persen per bulan. Nah, untuk mendapatkan dana sebesar Rp 4 bulan
sebagai pengeluaran per bulan dengan bunga sebesar 0,48 persen per bulan
berapa besarnya investasi yang diperlukan ?
Cara perhitungannya,
Rp 4 juta/0,48 persen = Rp 840 juta. Sehingga idealnya keluarga ini
memiliki dana investasi bebas risiko sebesar Rp 840 juta untuk dapat
memenuhi pengeluaran sebesar Rp 4 juta per bulan. Dari mana dana
investasi ini ? Dana ini didapatkan dari uang pertanggungan asuransi.
Sehingga dengan metode IBV, keluarga ini memerlukan uang pertanggungan
sebesar Rp 840 juta agar dapat menghasilkan dana sebesar Rp 4 juta per
bulan jika pencari nafkah meninggal.
Sementara cara ketiga disebut survival based value (SBV).
Dengan cara ini, dihitung berapa utang yang harus dilindungi dan berapa
penghasilan yang harus dilindungi sampai orang yang ditinggalkan
(disebut survival) dapat bekerja. Metode ini mengasumsikan
orang yang ditinggalkan akan bekerja dan akan bekerja setelah
ditinggalkan kepala keluarga.
Jika menggunakan metode ini, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan. Semakin besar uang yang harus
dibayarkan, semakin besar pula uang pertanggungan asuransi yang
dibutuhkan. Selain itu, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak
pengalaman yang dimiliki pasangan, diasumsikan semakin cepat pula dia
mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga adalah
berapa besarnya dana darurat yang dimiliki keluarga tersebut.
Misalnya
keluarga Danu (38). Danu berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Si istri,
Ani berusia 30 tahun dan baru dua tahun tidak bekerja. Sebelumnya
istri bekerja dengan gaji Rp 4 juta per bulan. Keluarga Budi membeli
rumah dengan cara mencicil. Rumah tersebut berharga Rp 400 juta dan
sisa utang mereka Rp 300 juta. Cicilan per bulan sebesar Rp 1,5 juta.
Total pengeluaran keluarga ini Rp 8 juta per bulan. Keluarga Danu
memiliki dana darurat sebesar Rp 50 juta. Berapa besar perlindungan yang
harus dimiliki keluarga tersebut ?
Dengan memperhitungkan dana
darurat yang sebesar Rp 50 juta, dengan pengeluaran Rp 8 juta berarti
dana tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya hidup sehari-hari
selama 6 bulan.
Selain itu, dengan memperhitungkan pengalaman
kerja serta keahlian istri, diasumsikan dia akan mudah mendapatkan
pekerjaan lagi setelah suaminya meninggal. Jika penghasilan terakhir Rp 4
juta, diperkirakan penghasilan istri jika bekerja kembali ada kenaikan
10 persen, berarti potensi pendapatan keluarga ini sebesar Rp 4,4 juta
per bulan.
Ketika mengikat akad kredit, biasanya kreditor
diasuransikan seumur kredit tersebut. Jadi jika meninggal, sisa tagihan
KPR akan dilunasi oleh uang pertanggungan dari asuransi kredit
tersebut. Jadi pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta untuk membayar cicilan
KPR tidak ada lagi. Biaya hidup turun dari Rp 8 juta – Rp 1,5 juta
menjadi Rp 6,5 juta. Dengan pendapatan istri yang sebesar Rp 4,4 juta
dan pengeluaran sebesar Rp 6,5 juta, keluarga ini masih kekurangan
pendapatan sebesar Rp 2,1 juta per bulan. Jadi Rp 2,1 x 12 x 20 tahun
= Rp 504 juta. Nah, Rp 504 juta inilah yang merupakan kekurangan yang
harus ditutupi dari uang pertanggungan asuransi. Dengan uang
pertanggungan asuransi sebesar Rp 504 juta ditambah dengan istri yang
bekerja kembali, maka keluarga ini tetap dapat memenuhi kebutuhan
sehari-harinya jika pencari nafkah utama meninggal dunia.
Hasil
perhitungan beberapa metode ini berbeda. Pilihlah yang sesuai dengan
keadaan keuangan Anda. Jangan cemas dahulu jika hasil perhitungan
menyebutkan Anda memerlukan uang pertanggungan hingga miliaran rupiah.
Carilah jenis asuransi yang sesuai dengan kantong.
Untuk
mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1 miliar, jika Anda masih muda
sekitar umur 30an dan sehat, biayanya hanya sekitar Rp 3 juta per tahun
jika mengambil asuransi berjangka atau term life. Tentu uang premi akan
semakin mahal jika usia bertambah dan kesehatan terganggu.
Oleh sebab itu, janganlah menunda membeli proteksi, demi keluarga tercinta
Kamis, 06 Februari 2014
Lowongan Manager/agen asuransi full time/part time
Lowongan Kerja sebagai Konsultan Keuangan - Agen - Manager - Asuransi Jiwa PT. Sequislife
Asuransi Jiwa PT. SequislifeManager/ Agent Full Time / Part time
Syarat Bergabung menjadi Team :
- Pendidikan minimal SMU/Sederajad.
- Wajib mengikuti Training (Conversion) Training pengetahuan produk Sequislife, supaya dapat menyampaikan informasi secara baik dan benar, dengan tujuan agar tidak terjadi miss-presentation kepada calon nasabah.
- Memiliki kemauan untuk sukses (self-motivated).
- Bisa bekerja secara Independent maupun Teamwork.
Benefit:
- Jenjang karir yang pasti.
- Fasilitas training yg lengkap sehingga memudahkan Anda dalam menguasai produk dan tehnik menjual dengan baik.
- Income tak terbatas, komisi agent pemula yang aktif berkisar Rp 5- Rp 10 juta/bulan, hingga tak terbatas.
- Bonus - bonus yang menarik baik dalam bentuk uang, penghargaan, dll.
- Bonus Perjalanan traveling Domestik dan Luar Negeri.
- Waktu bekerja yg flexible, full time dan part time.
Mengapa Sequislife?
Karena Sequislife merupakan satu-satunya asuransi lokal yang mengakuisisi asuransi global (metlife sejahtera) sehingga masuk rekor MURI, telah berdiri selama 30 th dengan aset perusahaan yang besar, Klaim dibayarkan SESUAI TAGIHAN
Pangsa pasar pun jauh lebih luas dibanding dengan perusahaan sejenis lainnya, dengan produk-produk asuransi dan investasi yang beragam, mulai dari asuransi tradisional, Kesehatan, Unit Link hingga Dana pendidikan dan pensiun
Bagi yang berminat segera hubungi Contact person:
Lukman P Rois
081230077134, 081931605695
lamaran bisa dikirim via e-mail : lux.rois@gmail.com
Mengapa Bisnis Asuransi?
Mengapa Bisnis Asuransi?
Tidak
ada orang yang bercita-cita untuk bekerja keras seumur hidupnya, tetapi
kenyataan seperti itu mungkin saja terjadi pada diri kita. Buktinya
banyak masyarakat kita di usia pensiun masih HARUS terus
bekerja. Hal itu dimungkinkan terjadi karena sekalipun sϋ∂αђ pensiun
∂åяi pekerjaan, tetapi tidak mungkin kita pensiun dari kebutuhan hidup.
Kalaupun tidak bekerja ƪαǧî, lantas apa cara yang biasanya orang pilih
dalam mempersiapkan dana untuk hari tuanya...???
MANA ŸΆΩǤ ANDA PILIH???
1)
Di masa mudanya mereka bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan
lebih dan berusaha keras menabung tahun demi tahun dengan suku bunga
ÿάΩǤ tidak seberapa...!? Namun pada saat memasuki kehidupan di masa
pensiun, harga kebutuhan hidup waktu demi waktu meningkat terus,
sehingga sering kali membuat tabungan kita tersedot dan mengalami
kemerosotan yang cukup tajam bahkan amblas!
2) Bergantung kepada orang lain, misalnya anak. Seandainya
Anda adalah seorang anak ÿάΩǤ sϋ∂αђ bekeluarga dan memiliki cukup
banyak tanggungan, maka otomatis tanggungan Anda akan bertambah, yaitu
orang tua Anda. Bagi sebagian orang, ini merupakan suatu beban tambahan
ÿάΩǤ menjadi masalah ÿάΩǤ HARUS ditelan bulat-bulat. Bukannya
mendapatkan warisan kesejahteraan melainkan "warisan beban hidup". Anda
HARUS bekerja lebih keras ƪαǧî. Jika Anda sebagai orang tua, walaupun
perasaan tidak nyaman, tapi apa boleh buat...?!
3) Bergantung kepada pemerintah. Ini
bukan hal ÿάΩǤ enak untuk dirasakan, karena kita telah dikategorikan
kaum miskin. Sayangnya negara kita bukan Amerika atau Eropa, dimana
pemerintah memberikan Tunjangan Kesejahteraan ÿάΩǤ memadai bagi
pensiunan.
4) Belajar dan membangun bisnis untuk masa tua Anda...
Nahh...,
alasan kenapa orang berbisnis adalah agar memiliki hidup sejahtera
sampai tua. Selain itu kita tidak mungkin kerja seumur hidup!!!
Sekalipun suatu saat Anda tidak bekerja ƪαǧî, namun bisnis Anda tetap
bekerja untuk kesejahteraan Anda. Uang dan waktu tidak menjadi masalah
ƪαǧî. Itulah dambaan setiap orang! Menarik bukan?
Pertanyaannya, apakah Anda sϋ∂αђ memiliki bisnis?
Putuskanlah untuk mulai bisnis ζέkªяäñg juga, ACTION!!!
Salah satu yang dapat Anda pilih adalah BISNIS ASURANSI...
Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk
jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian
dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi
seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan
pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai
ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.
Istilah "diasuransikan" biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan...
(Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992)
Apa kelebihan profesi sebagai Agen Asuransi dibanding profesi lain?
Di bawah ini beberapa keuntungan apabila Anda menjalankan Bisnis Asuransi:
- Nyaris Tanpa Modal
- Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri
- Waktu Kerja yang Fleksibel
- Tidak Perlu Sewa Kantor
- Support System Sudah Ada
- Manajemen Profesional
- Penghasilan Tidak Dibatasi
- Keuntungannya Besar
- Bonusnya Banyak
- Mendapatkan Kesempatan Jalan-jalan ke Luar Negeri
- Potensi Pasar yang Sangat Besar
- Tidak Ada Resiko Kerugian
- Produknya Tidak Ada Kadaluarsa
- Produknya Dibutuhkan Oleh Semua Orang
- Bisa Menjalankan Pekerjaan/Bisnis Lainnya
- Tidak Dibutuhkan Pengalaman Kerja
- Tidak Diperlukan Latar Belakang Pendidikan Tertentu
- Bisa Dijalankan Oleh Siapa Saja
- Bisa Dimulai Kapan Saja
- Aktualisasi Diri, Membentuk Sikap Positif
- Adanya Peluang Kerja dan Karir
- Bisa Diinformasikan Kepada Siapa Saja
- Pekerjaan/Profesi Mulia, Bisa Bermanfaat & Bantu Banyak Orang
- Berkesempatan Bertemu Banyak Orang
Di antara kita, masih banyak yang keliru, bahwa asuransi hanya untuk kalangan ekonomi menengah atas saja, yang berpenghasilan lebih. Justru sebaliknya, kelompok ekonomi menengah bawahlah yang sangat memerlukan asuransi!
Bagi mereka yang ekonominya sudah mapan, jika dikemudian hari terjadi suatu hal tak terduga yang harus mengeluarkan biaya besar, keadaan ekonomi keluarga tidak akan terlalu masalah besar. Namun sebaliknya, untuk yang ekonominya kurang mapan, pada saat terjadi sebuah peristiwa yang harus mengeluarkan biaya sangat besar, kondisi keuangan keluarga menjadi bermasalah, kehidupan keluarga terganggu!
Untuk golongan ekonomi yang sudah mapan pun, jika kekayaan yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, jika di masa yang akan datang sebagian dari kekayaannya itu harus dikeluarkan lagi untuk resiko kehidupan yang tidak terduga, tentu lebih baik diberikan kepada keluarga yang terkasih...
Pentingnya Asuransi
SEBERAPA PENTINGKAH, SEHINGGA HARUS BERASURANSI ?
Tulisan ini
hanyalah sekelumit cerita untuk membuka sedikit wawasan kita tentang apa itu asuransi,
dimana asuransi sudah tidak bisa dikatakan sebagai barang mewah
tetapi sudah menjadi
suatu kebutuhan.
Mengapa demikian ?
.
Saya akan mencoba
menulis tentang asuransi tanpa menggunakan
istilah-istilah yang rumit dalam asuransi, karena saya sendiri
sangat awam dengan istilah-istilah asuransi, saya akan menjelaskan kaitannya
dengan pengalaman yang pernah saya alami.
Mungkin saya mempunyai
pandangan yang konservatif terhadap asuransi atau dengan masih
sederhananya sistem asuransi dimasa
lalu atau karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki terhadap
asuransi itu sendiri yang membuat saya ill feel dengan apa yang namanya
asuransi.
Saya masih punya
anggapan dengan “ikut” sebagai nasabah/peserta asuransi berarti menggadaikan keyakinan saya terhadap
kehendak Tuhan yang seolah-olah akan terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan, padahal tersebut belum tentu terjadi dan saya yakin masih
banyak orang yang punya pandangan sama seperti apa yang saya yakini
pada waktu itu.
Itulah sebabnya saya
tidak pernah bisa bersahabat dengan yang namanya agen asuransi apapun
asuransinya dan siapapun orangnya, walaupun pada akhirnya pernah
menjadi nasabah dari asuransi kendaraan dan asuransi jiwa dan kecewa. Aneh tapi
nyata ….????
Sampai pada suatu
saat saya harus menandatangani kontrak (polis) asuransi, tanpa pernah
memahami dengan benar apa isi kontrak perjanjiannya. Saya menandatangani hanya
karena keterpaksaan, dengan pertimbangan rasa kasihan,
tidak enak, malas membaca lembaran-lembaran kertas setumpuk dengan tulisan
kecil-kecil, belum lagi harus pusing memahami istilah-istilah dan
singkatan-singkatan kata yang njlimet dalam asuransi dan yang utama
adalah untuk mengurangi rasa bersalah karena telah menggadaikan keyakinan saya terhadap
kehendak Tuhan. Dengan asal tanda tangan pada kontrak perjanjian (polis) tanpa
memahami isinya cukup buat saya untuk mengurangi rasa bersalah saya kepada
Tuhan, karena seolah-olah agen asuransi yang membutuhkan tanda tangan saya pada polisnya
bukan saya.
Dari hal di ataslah saya
mulai melakukan kesalahan demi kesalahan.
Yang pertama adalah ketika saya memutuskan bergabung dengan asuransi sebagai nasabah bukan karena kesadaran dari diri sendiri tetapi karena unsur keterpaksaan, sehingga saya tidak pernah membaca secara detail apa isi kontrak perjanjian dalam polis, semua saya serahkan kepada agen dan saya hanya focus pada pada berapa jumlah rupiah yang harus saya bayar setiap bulan sesuai kemampuan.
Yang pertama adalah ketika saya memutuskan bergabung dengan asuransi sebagai nasabah bukan karena kesadaran dari diri sendiri tetapi karena unsur keterpaksaan, sehingga saya tidak pernah membaca secara detail apa isi kontrak perjanjian dalam polis, semua saya serahkan kepada agen dan saya hanya focus pada pada berapa jumlah rupiah yang harus saya bayar setiap bulan sesuai kemampuan.
Kesalahan kedua saya adalah ketika saya mulai berfikir
bahwa asuransi bukanlah sebagai kebutuhan tetapi sebagai beban pengeluaran yang
harus saya sisihkan setiap bulan dari penghasilan untuk membayar premi,
dimana saat itu saya hanya berfikir bagaimana uang yang saya gunakan
untuk membayar biaya asuransi (premi) bisa saya manfaatkan untuk kebutuhan
lainnya, karena secara fisik masih sehat aktivitas masih
tinggi, sehingga kebutuhan akan hal-hal yang bersifat hiburan pun cukup tinggi
Kesalahan saya yang
ketiga adalah kesalahan paling fatal ketika saya memutuskan secara sepihak untuk berhenti dari
berasuransi, akibatnya uang yang selama ini saya
setorkan hangus tanpa mendapatkan manfaat sedikitpun dari
asuransi dikelak kemudian hari.
Memang pada saat saya
memutuskan secara sepihak untuk berhenti dari asuransi tidak menjadi
masalah, karena selama itupun kehidupan keseharian saya mulus-mulus
saja.
Saya tidak pernah
berfikir bahwa kondisi bisa berubah kapan saja tanpa pernah kita bayangkan
sebelumnya.
Dan baru beberapa tahun
kemudian apa yang selama itu tidak pernah saya bayangkan
terjadi …. Ketika usia bertambah, kemampuan justru menurun secara fisik sudah
tidak lagi seperti dulu, aktivitas menurun, sementara peningkatan penghasilan
tidak sebanding naiknya tingkat kebutuhan, tabungan selama ini sedikit demi
sedikit tergerogoti.
Namun hal itupun belum
juga membuat saya berfikir bahwa sebenarnya asuransi adalah investasi yang paling tepat
untuk mengatasi hal tersebut, sampai suatu saya bertemu kembali dengan
teman lama juga yang menawarkan asuransi.
karena setiap perusahaan asuransi menerapkan aturan yang berbeda yang boleh
disebut sebagai suatu kelebihan atau kekurangan dan tugas kita
sebagai nasabah adalah mengetahui secara rinci apa kelebihan dan kekurangan
setiap product yang ditawarkan, sehingga kita tahu apa yang menjadi kebutuhan
kita.
Dan bukan hanya itu
saja, jenis asuransi yang sekarang memungkinkan pula kepada calon
peserta/ nasabah untuk
memilih keunggulan pada perlindungan atau pada investasinya
tergantung kemampuan agen meramu jenis asuransinya sehingga harapan
dan kebutuhan nasabah terpenuhi, tentunya dengan batasan-batasan yang sudah
ditentukan tergantung apa perusahaan dan jenis asuransi yang ditawarkan.
Walaupun
saya bersyukur keadaan kesehatan sayapun tidak pernah mengalami suatu apapun,
namun baru sekarang ini lah saya menyadari kebodohan saya hanya
karena ketidaknyamanan terhadap yang namanya “asuransi” sampai
untuk menyimpan polisnya pun saya enggan.
Kembali bicara tentang
asuransi sebenarnya tidak berbeda
jauh dengan membeli suatu barang, hanya bedanya kalau membeli barang ada wujud yang jelas kita lihat, sedangkan
asuransi kita hanya bisa percaya apa ditawarkan oleh agencynya. Namun secara prinsip sama “ada harga ada rupa”, jangan hanya karena bujuk
rayu dari penjual barang kita membeli tanpa tahu manfaatnya, kelebihan dan
kekurangannya apa, berapa lama bisa digunakan, akibatnya apa, kalau rusak harus
dibawa kemana dst,dstnya.
Pesannya adalah :
Jangan pernah membeli
sesuatu karena terpaksa pasti anda kecewa, membelilah karena anda membutuhkannya sehingga anda tahu persis apa,
kapan dan bagaimana memanfaatkannya, namun apabila sudah terlanjur berusaha iklhlaslah karena siapa tahu suatu saat ada manfaatnya, karena kadang ketika kita menunda sesuatu kita tak bisa lagi mendapatkannya apa yang kita butuhkan .
Dan yang istimewa dari asuransi adalah kita membeli sesuatu yang tidak ada wujudnya dan bukan pada saat kita membutuhkannya, namun manfaatnya kita akan rasakan nyata nanti tepat pada saat kita sangat memerlukannya.
Dan keistimewaan asuransi yang kedua adalah kita belum tentu bisa membeli asuransi, tepat pada saat kita membutuhkan manfaatnya
Dan keistimewaan asuransi yang kedua adalah kita belum tentu bisa membeli asuransi, tepat pada saat kita membutuhkan manfaatnya
(Ungkapan ini akan
terjawab pada penjelasan di bawah)
APA ITU ASURANSI ?
Pada beberapa istilah
dalam literature ASURANSI mengarah pada tindakan, sistem
perlindungan financial (ganti kerugian secara finansial) kepada
hal-hal yang bersifat material, namun pada perkembangannya asuransi tidak hanya
memberikan perlindungan kepada materi secara harafiah tetapi juga
perlindungan-perlindungan lainnya yang lebih spesifik seperti jiwa
dan kesehatan yang dampak kerugiannya dihitung secara financial.
Atau dengan kata lain
adalah memindahkan / mengurangi sebagian resiko yang berdampak secara
ekonomis/financial yang kita miliki kepada pihak lain dengan ketentuan kontrak
perjanjian yang telah disepakati bersama
Dalam
perkembangan asuransi
tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban dunia, ilmu pengetahuan dan
tehnologi, dimana dalam era modern seperti sekarang ini hampir semua
sisi kehidupan manusia tidak lepas dari resiko yang diakibatkan kemajuan
tersebut dalam segala bidang, yang mau tidak mau, sadar
atau sadar kita harus menerimanya sebagai konsekwensi
logis yang tidak bisa dihindari.
Pertanyaan yang timbul :
Siapakah yang akan memberikan perlindungan kepada kita ?
DIMANA PERANAN
PEMERINTAH ?
Pemerintah sebagai
penyelanggara negara tentunya sudah berusaha untuk melindungi seluruh
rakyatnya, namun pertanyaan selanjutnya, mampukah ?
Itu masalahnya. Jumlah
penduduk yang begitu banyak dengan wilayah yang sebegitu luas dan tersebar
bukanlah pekerjaan gampang walaupun untuk pekerjaan yang sangat baku
yang seharusnya bisa dilakukan dengan mudah seperti mendata penduduknya pun
belum bisa dilakukan dengan baik, belum lagi keterbatasan sumber daya manusianya, tingkat kematangan birokrasi yang
sekarang cenderung korup, dst dst yang jelas sulit untuk bisa memberikan perlindungan
secara total kepada seluruh rakyatnya.
Walaupun ada banyak
program pemerintah yang mengarah pada perlindungan seperti : BPJS, jasa raharja, jamkesmas , dll namun apakah
bisa menjawab
kebutuhan seluruh masyarakatnya ? Tentunya "Tidak"
kebutuhan seluruh masyarakatnya ? Tentunya "Tidak"
Apa saja yang dibutuhkan dalam kehidupan oleh setiap
individu harus dibayar dengan uang, untuk kebutuhan sehari hari, makan, minum, pakaian, rumah, pendidikan, transportasi dengan berbagai pilihan
yang bisa kita peroleh disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan
kita, namun ada kalanya pada saat kita mengalami sesuatu yang tidak
kita terduga : sakit, kecelakaan, dll yang berujung sampai pada kematian, kesemuanya
membutuhkan biaya tak terduga yang
jauh lebih besar dari biaya kehidupan keseharian, mampukah kita mempersiapkan dan
memilih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita. Sulit
rasanya kita mengatakan siap untuk itu, sementara kehidupan harus terus
berjalan tidak berhenti sampai disitu karena ada orang-orang dekat disekitar
kita yang kita cintai dan tetap butuh biaya untuk hidup.
SEBERAPA PENTINGKAH
KITA MENJADI PESERTA ASURANSI SECARA MANDIRI SAAT INI ?
Walau masih ada celah untuk
mensiasatinya dengan cara menabung atau investasi, namun seberapa besar tabungan dan nilai
investasi kita yang mampu kita miliki untuk membiayai sesuatu yang tidak terduga, itu yang sulit diperkirakan karena dua
cara itupun tetap mengandung
resiko yang
cukup tinggi
- Tabungan akan meningkat apabila penghasilan kita lebih besar dari pengeluaran kita, sehingga kita punya kelebihan uang untuk ditabung, namun pada saat kita membutuhkan biaya besar yang melebihi penghasilan kita maka tabungan akan kita ambil, akibatnya tabungan kita akan berkurang atau bahkan habis sama sekali.
- Investasi memungkinkan apabila kita mempunyai uang lebih yang bisa ditanamkan pada suatu kegiatan bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan, namun seberapa besar kegiatan bisnis tersebut mampu menjamin uang yang kita tanam untuk dapat menghasilkan seperti yang kita harapkan, itu yang sulit diperkirakan.
APA MANFAAT LAIN DARI
MENABUNG DAN BERINVESTASI DENGAN CARA BERASURANSI ?
- Jaminan kesehatan : biaya perawatan medis di ICU, rawat inap, tunjangan operasi, obata-obatan, dll Dalam Hal ini cermatlah dalam memilih asuransi, pilih yang sesuai tagihan.
- Tunjangan apabila peserta asuransi terdeteksi penyakit kritis seperti kanker, cuci darah, jantung, dll
- Tunjangan apabila peserta asuransi mengalami cacat permanen
- Uang pertanggungan apabila peserta meninggal dunia
- Uang pensiun adalah nilai tabungan yang sudah mencapai batas waktu ditambah keuntungan dari investasinya
- Tunjangan sekolah anak pada saat masuk SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, serta jenjang lanjutan S2, S3
- Uang saku anak selama menempuh pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya.
- Dan lain-lain sesuai dengan kontrak perjanjian dan biaya asuransi (premi) yang disepakati, tergantung kebutuhan dan kemampuan dimana setiap individu bisa berbeda dan kebijakan setiap perusahaan asuransi dan jenis asuransinyapun bisa berbeda pula.
TIPS MELIHAT ASURANSI
YANG BAIK :
- Walaupun bukan sebagai syarat mutlak namun usia perusahaan yang bergerak dibidang asuransi bisa menjadi pertimbangan.
- Track record dari kinerja perusahaan asuransi juga bisa dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bergabung menjadi nasabah
- Karena asuransi adalah hubungan dalam jangka waktu lama, maka sebaiknya kenalilah agen asuransi yang menawarkan product asuransi yang punya hati nurani, dimana tidak hanya sekedar menjelaskan kelebihan dari product asuransi yang ditawarkan tetapi juga menjelaskan batasan-batasan yang jelas. Hati-hati terhadap agen-agen asuransi yang 'nakal' yang cenderung menguntungkan dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
