Pages - Menu

Kamis, 06 Februari 2014

Profil Sequislife

1984 - 
Didirikan dengan nama Universal Life Indo

1992 - 
Join venture dengan New York Life International dan berganti nama menjadi Sewu New York Life

2003 - 
Mengakuisisi seluruh saham New York Life dan memiliki indentitas baru yaitu Sequislife

2009 - 
Membeli gedung kantor yang diberi nama Sequis Center yang berlokasi di Central Business District
Meresmikan fasilitas Sequis Traning Academy of Execellent (STAE)
Mencatat pertumbuhan aset terbesar lebih dari 5 triliun rupiah

2010 - 
Meresmikan Service Center Nasional sebagai komitmen Sequislife untuk memberikan pelayanan prima kepada para nasabah.

2012 - 
Total Aset 8,307 Triliun Rupiah 
Total Premi 1,967 Triliun Rupiah 
Total Klaim:

  • (IDR) 163,841 Milyar (12.796 kasus)
  • (USD) 306.910 (26 kasus)
Jumlah Konsultan Kuangan 9.150 orang

2013 - 
29 tahun berkiprah dan menjadi salah satu asuransi jiwa terbaik di Indonesia
Memiliki 150 kantor pemasaran di 31 kota di Indonesia


VISI & MISI:

VISI:
Menjadi Perusahaan Pilihan dan Pemimpin Pasar di Industri Asuransi Jiwa.


MISI:
Untuk Para Nasabah:
  • Produk-produk dengan mutu terbaik.
  • Pelayanan Inovatif dan penuh perhatian.
Untuk Para Agen, Sequislife menyediakan:
  • Kesempatan karir yang terus berkembang.
  • Pengembangan profesionalisme.
  • Lingkungan & praktek-praktek manajemen internasional yang terkini dan terbaik.
 Kekuatan Sequislife didukung oleh pemegang saham yang solid yaitu Gunung Sewu Grup, salah satu kelompok bisnis termapan di Indonesia yang dibangun 50 tahun yang lalu dengan bisnis yang mencakup sektor-sektor strategis seperti:
  • Agrobisnis
  • Jasa keuangan
  • Pengembangan properti
  • Manufaktur

LEARNING & TRAINING:
Agen Sequislife dinilai dari performa dan prestasinya. Selama dekade terakhir ini, Sequislife telah mengungguli perusahaan asuransi jiwa lainnya di Indonesia dalam hal jumlah agen yang berhasil meraih penghargaan berkelas internasional sebagai anggota The Million Dollar Round Table (MDRT), yaitu sebuah asosiasi internasional yang beranggotakan para penjual profesional di industri asuransi jiwa. Keanggotaan MDRT telah dikenal di seluruh dunia dan merupakan bukti keberhasilan dan profesionalisme agen asuransi jiwa.
Dalam industri asuransi yang penuh tantangan ini, dibutuhkan suatu pelatihan yang bermutu tinggi dan bertaraf internasional. Sequislife telah mengimplementasikan program pelatihan yang efektif dan praktis. Program pelatihan bagi para agen ini merupakan program yang paling komprehensif. Melalui program tersebut para agen Sequislife terlatih untuk menjalankan tugasnya dengan tingkat dan profesionalisme dan integritas yang paling tinggi. Mereka juga terdidik untuk membangun hubungan dengan nasabahnya yang dapat berlangsung lama dan dapat diandalkan serta menjadi penasehat yang dapat membantu perencanaan keuangan keluarga, sehingga dapat memperoleh perlindungan keuangan yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu.



Sequis Traning Academy of Execellent (STAE) meliputi:
  • Sequis Quality Assurance (SQA) => Fakultas ini memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan oleh agen baru agar dapat bertahan dalam bisnis asuransi jiwa.
  • Sequis Quality Producer (SQP) => Fakultas ini mengembangkan agen-agen yang sudah mapan agar menjadi: Privilege Members, MDRT, COT, TOT, The Icon, Q Agents.
  • Sequis Quality Builder (SQB) => Fakultas ini membentuk para leader menjadi Mega Agencies, mempromosikan para leader baru, mencetak lebih banyak lagi pada Q leader.
  • Sequis Quality Empowermwnt (SQE) => Fakultas ini membentuk para agen dan leader agar memiliki kebiasaan kerja yang baik dan motivasi tinggi melalui nilai-nilai Sequislife dan AAJI.
 Sequislife hadir untuk memberikan rasa aman dalam pengelolaan keuangan serta mewujudkan kehidupan yang berkualitas bagi masa depan Anda sekeluarga... 



Untuk masyarakat Indonesia, Sequislife akan berkomitmen untuk:
  • Menerapkan standar tertinggi untuk integritas dalam dunia industri asuransi jiwa.
  • Kontribusi bagi pembangunan bangsa menyediakan proteksi terbaik "For A Better Tomorrow".


Nilai-nilai SEQUIS:
S = Security
Memberikan rasa aman dengan adanya kondisi keuangan perusahaan yang kokoh dan stabil.
E = Empowerment
Memberikan kewenangan sesuai kapasitas serta jabatannya masing-masing untuk menjadi pemimpin di bidangnya dengan menciptakan rasa kepemilikan dan rasa tanggung jawab.
Q = Quest for Knowledge
Selalu berusaha untuk mempelajari hal-hal yang baru dan melalukan perbaikan.
U = Unity
Setiap individu berusaha bersama-sama untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
I = Integrity
Jujur, terbuka dan dapat dipercaya.
S = Service Excellence
Berusaha untuk memberikan servis terbaik yang melebihi apa yang diharapkan.



Hitung Jumlah Kebutuhan Asuransi/Proteksi kita yuk..

Kebanyakan orang Indonesia kekurangan proteksi asuransi. Istilah pada dunia asuransi adalah underinsure. Alias proteksi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan sebenarnya. Ujungnya, tentu akan kesulitan. Harapan besar bahwa asuransi akan menghapuskan kesulitan ketika kepala keluarga tidak mampu memberi nafkah, sirna sudah.

Banyak contohnya. Evita Carolina (39) warga Bekasi dengan tiga anak mengatakan membayar premi asuransi jiwa sebesar Rp 2,8 juta per tahun. Uang pertanggungannya hanya sebesar Rp 50 juta. ”Memang kurang, tetapi belum ada rencana menambah lagi,” ujar ibu rumah tangga yang baru melahirkan anak ketiganya ini. Nurul Pramudya (36) lebih ekstrim lagi. Dia hanya memiliki asuransi pendidikan sebesar Rp 10 juta untuk kedua anaknya. Padahal, sejak suaminya meninggal 9 tahun lalu, dia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya. Jika terjadi risiko meninggal, kedua anaknya hanya akan menerima uang pertanggungan sebesar Rp 10 juta saja. ”Dahulu jumlah itu sudah terlihat besar, tetapi sekarang kecil sekali,” kata Nurul mengakui kecilnya uang pertanggungan yang dia miliki.

Sementara itu, Fitri Dharmayanti (40) seorang wanita pengusaha di Bengkulu mengatakan dia dan suaminya memiliki asuransi jenis unit link dengan uang pertanggungan Rp 500 juta. Tampaknya uang pertanggungan ini besar. Dengan biaya hidup sebesar Rp 8 juta per bulan, uang pertanggungan ini dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama lima tahun. Setelah lima tahun uang akan habis sementara anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar belum dapat memenuhi biaya hidupnya sendiri.

Mengapa kebanyakan nasabah asuransi tidak memiliki proteksi yang mencukupi kebutuhannya ? Hal itu terjadi karena nasabah sendiri tidak mengetahui berapa sebenarnya proteksi yang dibutuhkan. Sebagian besar orang membeli asuransi berdasarkan promosi dari agen asuransi, bukan kesadaran mencukupi kebutuhan proteksi. Jadi, antara kebutuhan dan proteksi yang ditawarkan tidak sebanding.

Selain kurang informasi dari agen asuransi, nasabah juga tidak memiliki kemampuan untuk menghitung berapa kebutuhan proteksinya. Padahal, caranya cukup mudah lho.

Cara menghitung
Ada beberapa metode digunakan untuk menghitung kebutuhan asuransi. Cara pertama adalah menghitung berdasarkan human live value. Metode ini menentukan uang pertanggungan asuransi berdasarkan berapa penghasilan dari seorang kepala keluarga yang disetahunkan. Penghasilan ini dikalikan dengan seberapa lama kira-kira dana tersebut diperlukan oleh ahli waris hingga ahli waris dapat mandiri. Biasanya, yang digunakan patokan untuk waktu ahli waris dapat mandiri adalah seusai dia selesai kuliah. Asumsinya, si anak atau ahli waris itu selesai kuliah dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Uang pertanggungan ini tidak memperhitungkan pertumbuhan dana jika disimpan di bank atau instrumen investasi lainnya.
Jadi misalnya sebuah keluarga Budi dengan ayah, Budi yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri yang tidak bekerja dan seorang anak yang berusia lima tahun. Penghasilan si ayah sebesar Rp 5 juta per bulan. Maka berdasarkan metode human live value, uang pertanggungan asuransi yang diperlukan adalah sebesar Rp 5 juta x 12 x 20 tahun = Rp 1,2 miliar.
Mengapa dikalikan dengan 20 tahun? Waktu 20 tahun itulah merupakan masa yang harus dilindungi. Mengingat si anak saat ini berusia 5 tahun, dalam waktu 20 tahun mendatang dia akan berusia 25 tahun, diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri sehingga tidak tergantung lagi dari uang pertanggungan asuransi.
Sehingga keluarga ini memerlukan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 1,2 miliar untuk memproteksi keperluan keluarga selama 20 tahun.
Semakin tinggi uang pertanggungan, semakin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Jika untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1,2 miliar premi yang harus dibayarkan terasa mahal, cara ini dapat diganti dengan memperhitungkan pengeluaran, bukan pendapatan.
Seumpama dari pendapatan sebesar Rp 5 juta tersebut ternyata biaya kebutuhan keluarga sebesar Rp 4 juta, maka perhitungannya menjadi Rp 4 juta x 12 x 20 tahun = Rp 960 juta.
Masih ada cara untuk menghitung berapa besarnya uang pertanggungan asuransi, cara kedua adalah income based value (IBV). Dengan cara ini, perlu dihitung berapa dana yang harus diinvestasikan agar dapat menghasilkan uang sebesar Rp 4 juta sebulan seperti contoh di atas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Dana itu harus diinvestasikan pada instrumen investasi yang aman. Saat ini, instrumen investasi yang dikategorikan aman dan memberikan imbal hasil di atas bunga perbankan adalah obligasi negara Indonesia (ORI).
Saat ini, tingkat suku bunga ORI sebesar 7,3 persen, dikurangi pajak 20 persen sehingga didapatkan hasil netto sebesar 5,84 persen per tahun atau 0,48 persen per bulan. Nah, untuk mendapatkan dana sebesar Rp 4 bulan sebagai pengeluaran per bulan dengan bunga sebesar 0,48 persen per bulan berapa besarnya investasi yang diperlukan ?
Cara perhitungannya, Rp 4 juta/0,48 persen = Rp 840 juta. Sehingga idealnya keluarga ini memiliki dana investasi bebas risiko sebesar Rp 840 juta untuk dapat memenuhi pengeluaran sebesar Rp 4 juta per bulan. Dari mana dana investasi ini ? Dana ini didapatkan dari uang pertanggungan asuransi. Sehingga dengan metode IBV, keluarga ini memerlukan uang pertanggungan sebesar Rp 840 juta agar dapat menghasilkan dana sebesar Rp 4 juta per bulan jika pencari nafkah meninggal.
Sementara cara ketiga disebut survival based value (SBV). Dengan cara ini, dihitung berapa utang yang harus dilindungi dan berapa penghasilan yang harus dilindungi sampai orang yang ditinggalkan (disebut survival) dapat bekerja. Metode ini mengasumsikan orang yang ditinggalkan akan bekerja dan akan bekerja setelah ditinggalkan kepala keluarga.
Jika menggunakan metode ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Semakin besar uang yang harus dibayarkan, semakin besar pula uang pertanggungan asuransi yang dibutuhkan. Selain itu, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman yang dimiliki pasangan, diasumsikan semakin cepat pula dia mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga adalah berapa besarnya dana darurat yang dimiliki keluarga tersebut.
Misalnya keluarga Danu (38). Danu berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Si istri, Ani berusia 30 tahun dan baru dua tahun tidak bekerja. Sebelumnya istri bekerja dengan gaji Rp 4 juta per bulan. Keluarga Budi membeli rumah dengan cara mencicil. Rumah tersebut berharga Rp 400 juta dan sisa utang mereka Rp 300 juta. Cicilan per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Total pengeluaran keluarga ini Rp 8 juta per bulan. Keluarga Danu memiliki dana darurat sebesar Rp 50 juta. Berapa besar perlindungan yang harus dimiliki keluarga tersebut ?
Dengan memperhitungkan dana darurat yang sebesar Rp 50 juta, dengan pengeluaran Rp 8 juta berarti dana tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya hidup sehari-hari selama 6 bulan.
Selain itu, dengan memperhitungkan pengalaman kerja serta keahlian istri, diasumsikan dia akan mudah mendapatkan pekerjaan lagi setelah suaminya meninggal. Jika penghasilan terakhir Rp 4 juta, diperkirakan penghasilan istri jika bekerja kembali ada kenaikan 10 persen, berarti potensi pendapatan keluarga ini sebesar Rp 4,4 juta per bulan.
Ketika mengikat akad kredit, biasanya kreditor diasuransikan seumur kredit tersebut. Jadi jika meninggal, sisa tagihan KPR akan dilunasi oleh uang pertanggungan dari asuransi kredit tersebut. Jadi pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta untuk membayar cicilan KPR tidak ada lagi. Biaya hidup turun dari Rp 8 juta – Rp 1,5 juta menjadi Rp 6,5 juta. Dengan pendapatan istri yang sebesar Rp 4,4 juta dan pengeluaran sebesar Rp 6,5 juta, keluarga ini masih kekurangan pendapatan sebesar Rp 2,1 juta per bulan. Jadi Rp 2,1 x 12 x 20 tahun = Rp 504 juta. Nah, Rp 504 juta inilah yang merupakan kekurangan yang harus ditutupi dari uang pertanggungan asuransi. Dengan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 504 juta ditambah dengan istri yang bekerja kembali, maka keluarga ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya jika pencari nafkah utama meninggal dunia.
Hasil perhitungan beberapa metode ini berbeda. Pilihlah yang sesuai dengan keadaan keuangan Anda. Jangan cemas dahulu jika hasil perhitungan menyebutkan Anda memerlukan uang pertanggungan hingga miliaran rupiah. Carilah jenis asuransi yang sesuai dengan kantong.
Untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1 miliar, jika Anda masih muda sekitar umur 30an dan sehat, biayanya hanya sekitar Rp 3 juta per tahun jika mengambil asuransi berjangka atau term life. Tentu uang premi akan semakin mahal jika usia bertambah dan kesehatan terganggu.
Oleh sebab itu, janganlah menunda membeli proteksi, demi keluarga tercinta

Lowongan Manager/agen asuransi full time/part time

Lowongan Kerja sebagai Konsultan Keuangan - Agen - Manager - Asuransi Jiwa PT. Sequislife

Asuransi Jiwa PT. Sequislife
Manager/ Agent Full Time / Part time


Syarat Bergabung menjadi Team :
  1. Pendidikan minimal SMU/Sederajad.
  2. Wajib mengikuti Training (Conversion) Training pengetahuan produk Sequislife, supaya dapat menyampaikan informasi secara baik dan benar, dengan tujuan agar tidak terjadi miss-presentation kepada calon nasabah.
  3. Memiliki kemauan untuk sukses (self-motivated).
  4. Bisa bekerja secara Independent maupun Teamwork.

Benefit:
  1. Jenjang karir yang pasti.
  2. Fasilitas training yg lengkap sehingga memudahkan Anda dalam menguasai produk dan tehnik menjual dengan baik.
  3. Income tak terbatas, komisi agent pemula yang aktif berkisar Rp 5- Rp 10 juta/bulan, hingga tak terbatas.
  4. Bonus - bonus yang menarik baik dalam bentuk uang, penghargaan, dll.
  5. Bonus Perjalanan traveling Domestik dan Luar Negeri.
  6. Waktu bekerja yg flexible, full time dan part time.

Mengapa Sequislife?
Karena Sequislife merupakan satu-satunya asuransi lokal yang mengakuisisi asuransi global (metlife sejahtera) sehingga masuk rekor MURI, telah berdiri selama 30 th dengan aset perusahaan yang besar, Klaim dibayarkan SESUAI TAGIHAN
Pangsa pasar pun jauh lebih luas dibanding dengan perusahaan sejenis lainnya, dengan produk-produk asuransi dan investasi yang beragam, mulai dari asuransi tradisional, Kesehatan, Unit Link hingga Dana pendidikan dan pensiun

Bagi yang berminat segera hubungi Contact person:
Lukman P Rois 
081230077134, 081931605695
lamaran bisa dikirim via e-mail : lux.rois@gmail.com

Mengapa Bisnis Asuransi?

Mengapa Bisnis Asuransi?
Tidak ada orang yang bercita-cita untuk bekerja keras seumur hidupnya, tetapi kenyataan seperti itu mungkin saja terjadi pada diri kita. Buktinya banyak masyarakat kita di usia pensiun masih HARUS terus bekerja. Hal itu dimungkinkan terjadi karena sekalipun sϋ∂αђ pensiun ∂åяi  pekerjaan, tetapi tidak mungkin kita pensiun dari kebutuhan hidup. Kalaupun tidak bekerja ƪαǧî, lantas apa cara yang biasanya orang pilih dalam mempersiapkan dana untuk hari tuanya...???



MANA ŸΆΩǤ ANDA PILIH???

1) Di masa mudanya mereka bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan lebih dan berusaha keras menabung tahun demi tahun dengan suku bunga ÿάΩǤ tidak seberapa...!? Namun pada saat memasuki kehidupan di masa pensiun, harga kebutuhan hidup waktu demi waktu meningkat terus, sehingga sering kali membuat tabungan kita tersedot dan mengalami kemerosotan yang cukup tajam bahkan amblas!
2) Bergantung kepada orang lain, misalnya anak. Seandainya Anda adalah seorang anak ÿάΩǤ sϋ∂αђ bekeluarga dan memiliki cukup banyak tanggungan, maka otomatis tanggungan Anda akan bertambah, yaitu orang tua Anda. Bagi sebagian orang, ini merupakan suatu beban tambahan ÿάΩǤ menjadi masalah ÿάΩǤ HARUS ditelan bulat-bulat. Bukannya mendapatkan warisan kesejahteraan melainkan "warisan beban hidup". Anda HARUS bekerja lebih keras ƪαǧî. Jika Anda sebagai orang tua, walaupun perasaan tidak nyaman, tapi apa boleh buat...?!
3) Bergantung kepada pemerintah. Ini bukan hal ÿάΩǤ enak untuk dirasakan, karena kita telah dikategorikan kaum miskin. Sayangnya negara kita bukan Amerika atau Eropa, dimana pemerintah memberikan Tunjangan Kesejahteraan ÿάΩǤ memadai bagi pensiunan.

4) Belajar dan membangun bisnis untuk masa tua Anda...

Nahh..., alasan kenapa orang berbisnis adalah agar memiliki hidup sejahtera sampai tua. Selain itu kita tidak mungkin kerja seumur hidup!!! Sekalipun suatu saat Anda tidak bekerja ƪαǧî, namun bisnis Anda tetap bekerja untuk kesejahteraan Anda. Uang dan waktu tidak menjadi masalah ƪαǧî. Itulah dambaan setiap orang! Menarik bukan?
Pertanyaannya, apakah Anda sϋ∂αђ memiliki bisnis?
Putuskanlah untuk mulai bisnis ζ‍‍έkªяäñg juga, ACTION!!!
Salah satu yang dapat Anda pilih adalah BISNIS ASURANSI...


Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.
Istilah "diasuransikan" biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan...
(Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992)


Apa kelebihan profesi sebagai Agen Asuransi dibanding profesi lain?

Di bawah ini beberapa keuntungan apabila Anda menjalankan Bisnis Asuransi:
  1. Nyaris Tanpa Modal
  2. Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri
  3. Waktu Kerja yang Fleksibel
  4. Tidak Perlu Sewa Kantor
  5. Support System Sudah Ada
  6. Manajemen Profesional
  7. Penghasilan Tidak Dibatasi
  8. Keuntungannya Besar
  9. Bonusnya Banyak
  10. Mendapatkan Kesempatan Jalan-jalan ke Luar Negeri
  11. Potensi Pasar yang Sangat Besar
  12. Tidak Ada Resiko Kerugian
  13. Produknya Tidak Ada Kadaluarsa
  14. Produknya Dibutuhkan Oleh Semua Orang
  15. Bisa Menjalankan Pekerjaan/Bisnis Lainnya
  16. Tidak Dibutuhkan Pengalaman Kerja
  17. Tidak Diperlukan Latar Belakang Pendidikan Tertentu
  18. Bisa Dijalankan Oleh Siapa Saja
  19. Bisa Dimulai Kapan Saja
  20. Aktualisasi Diri, Membentuk Sikap Positif
  21. Adanya Peluang Kerja dan Karir
  22. Bisa Diinformasikan Kepada Siapa Saja
  23. Pekerjaan/Profesi Mulia, Bisa Bermanfaat & Bantu Banyak Orang
  24. Berkesempatan Bertemu Banyak Orang 

Di antara kita, masih banyak yang keliru, bahwa asuransi hanya untuk kalangan ekonomi menengah atas saja, yang berpenghasilan lebih. Justru sebaliknya, kelompok ekonomi menengah bawahlah yang sangat memerlukan asuransi!
Bagi mereka yang ekonominya sudah mapan, jika dikemudian hari terjadi suatu hal tak terduga yang harus mengeluarkan biaya besar, keadaan ekonomi keluarga tidak akan terlalu masalah besar. Namun sebaliknya, untuk yang ekonominya kurang mapan, pada saat terjadi sebuah peristiwa yang harus mengeluarkan biaya sangat besar, kondisi keuangan keluarga menjadi bermasalah, kehidupan keluarga terganggu!
Untuk golongan ekonomi yang sudah mapan pun, jika kekayaan yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, jika di masa yang akan datang sebagian dari kekayaannya itu harus dikeluarkan lagi untuk resiko kehidupan yang tidak terduga, tentu lebih baik diberikan kepada keluarga yang terkasih...

Pentingnya Asuransi


SEBERAPA PENTINGKAH, SEHINGGA HARUS BERASURANSI ?

BAGAIMANA BERKATA “YA” PADA ASURANSI



Tulisan ini hanyalah sekelumit cerita untuk  membuka sedikit  wawasan kita tentang apa itu asuransi, dimana asuransi sudah tidak bisa dikatakan sebagai barang mewah tetapi sudah  menjadi suatu kebutuhan.


Mengapa demikian ?


 .
 
Saya akan mencoba menulis tentang asuransi  tanpa  menggunakan istilah-istilah yang rumit dalam asuransi, karena saya  sendiri sangat awam dengan istilah-istilah asuransi, saya akan menjelaskan kaitannya dengan pengalaman yang pernah saya alami.
Mungkin saya mempunyai pandangan yang konservatif terhadap asuransi atau dengan masih sederhananya sistem asuransi dimasa lalu atau karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki  terhadap asuransi itu sendiri yang membuat saya ill feel dengan apa yang namanya asuransi.
Saya masih punya anggapan dengan “ikut”  sebagai nasabah/peserta asuransi berarti menggadaikan keyakinan saya terhadap kehendak Tuhan  yang seolah-olah akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan padahal tersebut belum tentu terjadi dan saya yakin masih banyak orang  yang punya pandangan sama seperti apa yang saya yakini pada waktu itu.
Itulah sebabnya  saya tidak pernah bisa bersahabat dengan yang namanya agen asuransi apapun asuransinya dan siapapun orangnya,  walaupun pada akhirnya pernah menjadi nasabah dari asuransi kendaraan dan asuransi jiwa dan kecewa. Aneh tapi nyata ….????
Sampai pada  suatu saat saya harus menandatangani kontrak (polis) asuransi,  tanpa  pernah memahami dengan benar apa isi kontrak perjanjiannya. Saya menandatangani  hanya karena  keterpaksaan,   dengan pertimbangan rasa  kasihan, tidak enak, malas membaca lembaran-lembaran kertas setumpuk dengan tulisan kecil-kecil, belum lagi harus pusing memahami istilah-istilah dan singkatan-singkatan kata  yang njlimet dalam asuransi dan yang utama adalah untuk mengurangi rasa bersalah  karena  telah menggadaikan keyakinan saya terhadap kehendak Tuhan. Dengan asal tanda tangan pada kontrak perjanjian (polis) tanpa memahami isinya cukup buat saya untuk mengurangi rasa bersalah saya kepada Tuhan, karena seolah-olah agen asuransi yang membutuhkan tanda tangan saya pada polisnya bukan saya.
  
Dari hal di ataslah saya mulai melakukan kesalahan demi kesalahan.   

Yang  pertama  adalah  ketika saya  memutuskan  bergabung dengan asuransi sebagai nasabah  bukan karena kesadaran dari diri sendiri tetapi karena unsur keterpaksaan, sehingga saya tidak pernah membaca secara detail apa isi kontrak perjanjian dalam polis, semua saya serahkan kepada agen dan saya hanya  focus pada  pada berapa jumlah rupiah yang harus saya bayar setiap bulan sesuai kemampuan.
Kesalahan kedua saya adalah ketika saya mulai berfikir bahwa asuransi bukanlah sebagai kebutuhan tetapi sebagai beban pengeluaran yang harus saya sisihkan setiap bulan dari penghasilan untuk membayar premi, dimana  saat itu saya hanya berfikir bagaimana uang yang saya gunakan untuk  membayar biaya asuransi (premi) bisa saya manfaatkan  untuk kebutuhan lainnya,  karena secara fisik masih sehat  aktivitas masih tinggi, sehingga kebutuhan akan hal-hal yang bersifat hiburan pun cukup tinggi
Kesalahan saya yang ketiga adalah kesalahan paling fatal ketika saya memutuskan secara sepihak untuk berhenti dari berasuransi,   akibatnya  uang yang selama ini saya setorkan  hangus tanpa  mendapatkan manfaat sedikitpun dari asuransi dikelak kemudian hari.
Memang pada saat saya memutuskan secara sepihak untuk berhenti dari asuransi  tidak menjadi masalah,  karena selama itupun kehidupan keseharian saya  mulus-mulus saja. 
Saya tidak pernah berfikir bahwa kondisi bisa berubah kapan saja tanpa pernah kita bayangkan sebelumnya.
Dan baru beberapa tahun kemudian apa yang selama  itu  tidak pernah saya bayangkan terjadi …. Ketika usia bertambah, kemampuan justru menurun secara fisik sudah tidak lagi seperti dulu, aktivitas menurun, sementara peningkatan  penghasilan tidak sebanding naiknya tingkat kebutuhan, tabungan selama ini sedikit demi sedikit tergerogoti.
Namun hal itupun  belum juga membuat  saya berfikir bahwa sebenarnya  asuransi adalah investasi yang paling tepat untuk mengatasi hal tersebut,  sampai suatu  saya bertemu kembali dengan teman lama juga yang menawarkan asuransi.  
karena  setiap perusahaan asuransi menerapkan aturan  yang berbeda  yang boleh disebut sebagai suatu  kelebihan atau kekurangan dan tugas kita sebagai nasabah adalah mengetahui secara rinci apa kelebihan dan kekurangan setiap product yang ditawarkan, sehingga kita tahu apa yang menjadi kebutuhan kita.
Dan bukan hanya itu saja, jenis  asuransi yang sekarang memungkinkan pula kepada calon peserta/ nasabah untuk memilih keunggulan pada perlindungan atau pada  investasinya tergantung  kemampuan agen meramu jenis asuransinya sehingga harapan dan kebutuhan nasabah terpenuhi, tentunya dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan tergantung apa perusahaan  dan jenis asuransi yang ditawarkan.
   

Walaupun  saya bersyukur keadaan kesehatan  sayapun tidak pernah mengalami suatu apapun, namun baru sekarang ini lah saya  menyadari kebodohan saya hanya karena ketidaknyamanan terhadap yang namanya “asuransi” sampai untuk menyimpan polisnya  pun saya enggan.
Kembali bicara tentang asuransi sebenarnya tidak berbeda jauh dengan membeli  suatu barang, hanya bedanya kalau membeli barang ada wujud yang jelas kita lihat, sedangkan asuransi kita hanya bisa percaya apa ditawarkan oleh agencynya. Namun secara prinsip sama “ada harga ada rupa”,   jangan hanya karena bujuk rayu dari penjual barang kita membeli tanpa tahu manfaatnya, kelebihan dan kekurangannya apa, berapa lama bisa digunakan, akibatnya apa, kalau rusak harus dibawa kemana dst,dstnya.
Pesannya adalah  : Jangan pernah  membeli sesuatu karena terpaksa pasti anda kecewa, membelilah  karena anda membutuhkannya sehingga  anda tahu persis apa, kapan dan bagaimana memanfaatkannya,  namun apabila sudah terlanjur berusaha iklhlaslah karena siapa tahu suatu saat ada manfaatnya, karena kadang ketika kita menunda sesuatu kita tak bisa lagi  mendapatkannya  apa yang kita butuhkan . 
Dan yang istimewa dari asuransi adalah kita membeli sesuatu yang tidak ada wujudnya dan bukan pada saat kita  membutuhkannya, namun manfaatnya kita akan rasakan  nyata nanti tepat pada saat kita sangat memerlukannya. 

Dan keistimewaan asuransi yang kedua adalah kita belum tentu bisa membeli asuransi, tepat pada saat  kita membutuhkan manfaatnya
(Ungkapan ini akan terjawab pada penjelasan di bawah)
APA ITU ASURANSI  ?
Pada beberapa istilah dalam literature  ASURANSI mengarah pada  tindakan, sistem perlindungan  financial (ganti kerugian secara finansial) kepada hal-hal yang bersifat material, namun pada perkembangannya asuransi tidak hanya memberikan perlindungan kepada materi secara harafiah tetapi juga perlindungan-perlindungan lainnya yang lebih spesifik  seperti jiwa dan kesehatan  yang dampak kerugiannya dihitung secara  financial.
Atau dengan kata lain adalah memindahkan / mengurangi sebagian resiko yang berdampak secara ekonomis/financial yang kita miliki kepada pihak lain dengan ketentuan kontrak perjanjian yang telah disepakati bersama
Dalam perkembangan asuransi tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban dunia, ilmu pengetahuan dan tehnologi,  dimana dalam era modern seperti sekarang ini hampir semua sisi kehidupan manusia tidak lepas dari resiko yang diakibatkan kemajuan tersebut  dalam segala bidang, yang mau tidak mau,  sadar atau sadar  kita  harus menerimanya sebagai konsekwensi logis yang tidak bisa dihindari.
Pertanyaan yang timbul : Siapakah yang akan memberikan perlindungan kepada kita ?

DIMANA PERANAN PEMERINTAH  ?
Pemerintah sebagai penyelanggara negara tentunya sudah berusaha untuk melindungi seluruh rakyatnya, namun pertanyaan selanjutnya, mampukah ?
Itu masalahnya. Jumlah penduduk yang begitu banyak dengan wilayah yang sebegitu luas dan tersebar bukanlah pekerjaan gampang walaupun untuk pekerjaan yang sangat  baku yang seharusnya bisa dilakukan dengan mudah seperti mendata penduduknya pun belum bisa dilakukan dengan baik,  belum lagi keterbatasan sumber daya manusianya,  tingkat kematangan birokrasi yang sekarang cenderung korup, dst dst yang jelas sulit untuk bisa memberikan perlindungan secara total kepada  seluruh rakyatnya.
Walaupun ada banyak program pemerintah yang mengarah pada perlindungan seperti :  BPJS,  jasa raharja, jamkesmas , dll namun apakah bisa menjawab 
kebutuhan  seluruh masyarakatnya ? Tentunya "Tidak"
Apa saja yang dibutuhkan dalam kehidupan  oleh setiap individu harus dibayar dengan uang, untuk kebutuhan sehari hari, makan, minum, pakaian, rumah, pendidikan, transportasi dengan berbagai pilihan yang bisa kita peroleh disesuaikan dengan  kebutuhan dan kemampuan kita, namun  ada kalanya pada saat kita mengalami sesuatu yang tidak kita terduga  : sakit, kecelakaan, dll yang berujung sampai pada kematian,  kesemuanya membutuhkan biaya tak terduga yang jauh lebih besar dari biaya  kehidupan keseharian,  mampukah kita mempersiapkan dan memilih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita.   Sulit rasanya kita mengatakan siap untuk itu, sementara kehidupan harus terus berjalan tidak berhenti sampai disitu karena ada orang-orang dekat disekitar kita yang kita cintai dan tetap butuh biaya  untuk hidup.
SEBERAPA PENTINGKAH KITA  MENJADI PESERTA ASURANSI SECARA MANDIRI SAAT  INI    ?

Walau  masih ada celah  untuk mensiasatinya dengan cara  menabung atau investasi, namun seberapa besar  tabungan dan nilai investasi kita yang mampu kita miliki untuk membiayai  sesuatu yang tidak terduga, itu yang sulit diperkirakan karena dua cara itupun tetap mengandung resiko yang cukup tinggi
  1. Tabungan akan meningkat apabila penghasilan kita lebih besar dari pengeluaran kita, sehingga kita punya kelebihan uang untuk ditabung, namun pada saat kita membutuhkan biaya besar yang melebihi penghasilan kita maka tabungan akan kita ambil, akibatnya tabungan kita akan berkurang  atau bahkan habis sama sekali.

  1. Investasi memungkinkan apabila kita mempunyai uang lebih yang bisa ditanamkan pada  suatu kegiatan bisnis  yang dapat menghasilkan keuntungan, namun seberapa besar kegiatan  bisnis  tersebut mampu menjamin  uang yang kita tanam untuk dapat  menghasilkan seperti yang kita harapkan, itu yang sulit diperkirakan.

APA MANFAAT LAIN DARI MENABUNG DAN BERINVESTASI DENGAN CARA BERASURANSI ?
  1. Jaminan kesehatan : biaya perawatan medis di ICU, rawat inap, tunjangan operasi, obata-obatan, dll 
  2. Dalam Hal ini cermatlah dalam memilih asuransi, pilih yang sesuai tagihan.
  3. Tunjangan apabila peserta asuransi terdeteksi penyakit kritis seperti kanker, cuci darah, jantung, dll 

  4. Tunjangan apabila peserta asuransi mengalami cacat permanen
  5. Uang pertanggungan apabila peserta meninggal dunia
  6. Uang pensiun adalah nilai tabungan yang sudah mencapai batas waktu ditambah keuntungan dari investasinya
  7. Tunjangan sekolah anak pada saat masuk SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, serta      jenjang lanjutan S2, S3
  8. Uang saku anak selama menempuh pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya.
  9. Dan lain-lain sesuai dengan kontrak perjanjian dan biaya asuransi (premi)  yang disepakati, tergantung kebutuhan dan kemampuan dimana setiap individu bisa berbeda dan kebijakan setiap perusahaan asuransi dan jenis asuransinyapun bisa berbeda pula.
TIPS MELIHAT ASURANSI YANG BAIK :
  1. Walaupun bukan sebagai syarat mutlak namun usia perusahaan yang bergerak dibidang asuransi bisa menjadi pertimbangan.
  2. Track record dari kinerja perusahaan asuransi juga bisa dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bergabung menjadi nasabah
  3. Karena asuransi  adalah hubungan dalam jangka waktu lama, maka sebaiknya kenalilah agen asuransi yang menawarkan product asuransi yang punya hati nurani, dimana tidak hanya sekedar menjelaskan kelebihan  dari product asuransi yang ditawarkan tetapi juga menjelaskan batasan-batasan yang jelas. Hati-hati terhadap agen-agen asuransi yang 'nakal' yang cenderung menguntungkan dirinya sendiri.